Minggu, 25 Februari 2018

NAMA : Novia Rachmadani Wijayanti
NIM : 175231077
JURUSAN : Perbankan Syariah (2B)
MATKUL : Metodologi Studi Islam
JUDUL BUKU : Sejarah dan Metode Ilmu-Ilmu Keislaman di Masa Klasik

BAB 1
ISLAM DAN ILMU PENGETAHUAN
I. Dorongan Islam Mencari Ilmu Pengetahuan
Islam sangat mendukung umatnya untuk mencari ilmu. Juga sudah dijelaskan pada Al-Qur’an dan Al-Hadist, Nabi Muhammad pun juga memerintahkan umatnya untuk mencari ilmu. Seperti yang dijelaskan pada Qur’an Surah: Surah Taha ayat 114, Surah Az-Zumar ayat 9, Surah Al-Mujadalah ayat 11, serta Surah Fatir ayat 28
Serta tidak hanya pada Al-Quran dan Al-Hadist saja, melainkan juga diceritakan pada buku-buku. Misalnya:
a. Ar-Rihlah fi Talab al-Hadis, karya Al-Khatib al-Baghdadi
b. Safahat min Sabral al-Ulama, karya Syaikh Abdul Fattah
c. Ma’alim fi Tariq Talab al-Ilm, karya Abdul Aziz

II. Pusat Pengetahuan dan Pendidikan Islam
- Wilayah Timur (Madinah, Syam, Baghdad, Persia dan Mesir)
Madinah ialah sebagai pusat pengetahuan dan pendidikan islam. Nizar Abadzhah juga menjelaskan secara detail tentang kedudukan Madinah di masa Nabi sebagai cikal bakal perkembangan ilmu pengetahuan. Nabi pun yang memberantas buta huruf dan beliau meminta tebusan yaitu sejumlah tawanan kaum musyrik pada perang badar untuk mengajarkan baca tulis kepada sepuluh anak muslim.
Selanjutnya lama kelamaan islam pun mulai menyebar luas, yang awalnya hanya berpusat di Madinah lalu menuju ke Kairo terus ke Afrika utara dan menyebar ke Andalusia serta ke arah timur melalui Iran lalu ke Asia.
Pada saat Umar bin Khattab menjadi khalifah perluasan islam pun semakin meluas. beliau menaklukan daerah-daerah seperti Iraq, Azerbaijan, Basrah, Kufah, Syam dan Mesir.
Dawlah Umayyah memindahkan ibukota ke Damaskus, lalu memperluas wilayahnya ke daerah Maghrib dan Andalusia serta ke arah timur. Berikut ialah para tokoh dalam bidang berbagai ilmu, yakni:
a. Ibnu Abbas (619-687)
b. Zaid ibn Tsabit (611-666)
c. Abdullah ibn Umar
Dan sebenarnya masih banyak lagi ilmuwan atau sahabat yang memiliki keahlian lebih dibidang pengetahuan. Maupun di Damaskus, Kufah, Basrah, Mesir dan Baghdad. Itu tadi hanya disebutkan  tokoh sebagiannya saja.
- Wilayah Barat (Cordova)
Khilafah Umayyah  memulai penaklukan ke wilayah barat. Pada tahun 711 Andalusia berhasil ditaklukan. Pada tahun 756 Abdurrahman I atau pangeran dari khilafah Damaskus melarikan diri ke Andalusia lalu menjadi khalifah disana.

III. Organisasi Pendidikan Islam
- Halaqah : bentuk sederhana dari organisasi pendidikan islam klasik
- Maktab : ialah sekolah menulisyang ada sebelum islam
- Sekolah istana : yakni sekolah yang dilaksanakan di istana
- Sekolah masjid : yaitu mempelajari tentang bagaimana masjid itu sendiri, hal ini biasa ditujukan kepada para anak muda
- Sekolah toko buku : hal ini sama dengan halnya perpustakaan
- Sanggar sastra : tempat khusus untuk orang tertentu yang biasa membahas tentang sastra dan ilmu pengetahuan
- Madrasah : adalah tempat untuk memberikan pelajaran
- Universitas : ini adalah puncak kejayaan ilmu pengetahuan dizaman klasik islam

BAB 2
PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DI DUNIA ISLAM
I. Lahirnya Ilmu Pengetahuan di dalam Islam
Menurut Huda ‘Abdurrazzaq ath-Tha’i, pada masa Nabi ilmu yang wajib diajarkan ialah: Menelaah Al-Qur’an, Menghafal Hadist, Bahasa Arab dan Adab.
Sedangkan menurut Hasan Ibrahim Hassan, ilmu yang pertama kali berkembang pada sejarah Islam ialah: Al-Quran dan tafsirnya, Ilmu Tafsir, Ilmu Qira’ah, Fiqh, Nahwu (tata bahasa Arab), Hadist dan Ilmunya, serta Ilmu penulisan kamus bahasa


II. Klasifikasi Ilmu Pengetahuan dalam Islam
Yang dimaksud dalam hal ini ialah sebagai perkembangan ilmu pengetahuan dari yang belum spesifik menjadi yang lebih spesifik lagi. Setelah digali lebih dalam lagi hal ini melahirkan ilmu-ilmu mandiri seperti qiraat, tafsir, Hadist dan masthlahatnya.
Ada banyak Ilmuwan yang melahirkan ilmu-ilmu keislaman yaitu: Abu Yusuf Ya’qub Ishaq al-Kindi, Abu Zaid al-Balkhi, Abu Nashr al-Farabi, Ibnu Kufi al-Asadi, Ibnu an-Nadhim, Al-Khawarizmi al-Katib, Ibnu Farighun, Ibnu Sina, Ibnu Hazm, Al-Abiyawardi, Az-Zamakhsyari, Al-Fakhrurrazi, Ibnu Khaldun, Thasy Kubra Zadah.

III. Tradisi Bayani, Burhani, dan Irfani
- Bayani ialah cara berfikir yang mengedepankan masalalu dan menggunakan Al-Qur’an dan Hadist
- Burhani ialah sesuatu yang dianggap benar bila bisa dibuktikan secara empiris
- Irfani ialah sesuatu yang biasanya dilaksanakan menggunakan batin, ccontohnya Isra’ miraj nya Nabi Muhammad SAW

IV. Metode Memperoleh Ilmu dalam Tradisi keilmuan Islam
Ada 2 metode yang biasa digunakan untuk memperoleh ilmu di Arab, yakni dengan cara metode Hafalan dan Tulisan. Metode ini sudah dilaksanakan sebelum Islam datang, dan di Al-Qur’an dan Hadist pun sudah dijelaskan bahwa untuk seluruh umat Islam agar membaca dan mencari ilmu. Banyak juga ilmuan yang meneliti hal ini.


V. Isnad dan Metode Transmisi Keilmuan Islam
Ada 3 aplikasi Sanad yang memiliki ciri-ciri umum yang berbeda yaitu:
a. Dalam bidang ilmu Hadist
b. Dalam transmisi kitab atau buku
c. Dalam do’a atau yang terkenal dengan sanad hizb
Berbicara tentang Sanad, Ulama-ulama terdahaulu menyusun metode-metode untuk memperoleh ilmu dan disusun dari yang paling tinggi: As-Sima, Al-Qira’ah, As-Sima ala asy-Syaikh bi Qira’ah Gairih, Al-Ijazah, Al-Munawalah, Al-Kitabah, dan Al-Wijadah.

VI. Pengutipan dalam Etika Keilmuan Islam
Biasanya dengan mengutip dapat meningkatkan prestise karya sendiri melalui sumber yang diambil oleh si pengutip. Di dunia Islam, penghormatan kepada pihak literatur adalah sangat besar.

BAB 3
ILMU-ILMU KEISLAMAN: METODE DAN SUMBER
Dalam ilmu Ushul Fiqh disini judul Al-Bayan ini, Asy-Syafi’i memperkenalkan tingkat perbedaan kejelasan teks Al-Qur’an:
a. Tingkat pertama adalah teks yang jelas (Bayyin).
b. Tingkat kedua adalah tampak (Zahir).
c. Tingkat ketiga adalah global (Mujmal).
Berikut kitab-kitab Tafsir dengan kategorinya:
a. Jami’ul Bayan fi Tafsir Al-Qur’an karya Ath-Thabari
b. Bahral al-Ulum karya Abu Laits as-Samarqandi
c. Ma’alim at-Tanzil karya Al-Baghdawi
d. Tafsir Al-Qur’an al-Ahzin karya Ibnu Katsir, dsb
Dan pada abad ke 5 Hijriyah atau 11M, ada 5 pembukuan tafsir terlepas dari metode para ahli Hadis, dan dikenal dengan istilah tafsir bir-ra’yi.

Selasa, 20 Februari 2018

NAMA : Novia Rachmadani Wijayanti
NIM : 175231077
JURUSAN : Perbankan Syariah (2B)
MATKUL : Metodologi Studi Islam
JUDUL BUKU : Sejarah dan Metode Ilmu-Ilmu Keislaman di Masa Klasik
PENGARANG : Dr. Ismail Yahya, MA
KLASIFIKASI : 2X0.07
ISBN : 978-602-1508-56-5
BAHASA : Indonesia
TAHUN TERBIT : 2016
PENERBIT : Kaukaba
DESKRIPSI FISIK : Ukuran: 23, Jumlah halaman: 68

BAB 1
ISLAM DAN ILMU PENGETAHUAN
I. Dorongan Islam Mencari Ilmu Pengetahuan
Islam sangat mendukung umatnya untuk mencari ilmu. Juga sudah dijelaskan pada Al-Qur’an dan Al-Hadist, Nabi Muhammad pun juga memerintahkan umatnya untuk mencari ilmu. Seperti yang dijelaskan pada Qur’an Surah: Surah Taha ayat 114, Surah Az-Zumar ayat 9, Surah Al-Mujadalah ayat 11, serta Surah Fatir ayat 28
Serta tidak hanya pada Al-Quran dan Al-Hadist saja, melainkan juga diceritakan pada buku-buku. Misalnya:
a. Ar-Rihlah fi Talab al-Hadis, karya Al-Khatib al-Baghdadi
b. Safahat min Sabral al-Ulama, karya Syaikh Abdul Fattah
c. Ma’alim fi Tariq Talab al-Ilm, karya Abdul Aziz

II. Pusat Pengetahuan dan Pendidikan Islam
- Wilayah Timur (Madinah, Syam, Baghdad, Persia dan Mesir)
Madinah ialah sebagai pusat pengetahuan dan pendidikan islam. Nizar Abadzhah juga menjelaskan secara detail tentang kedudukan Madinah di masa Nabi sebagai cikal bakal perkembangan ilmu pengetahuan. Nabi pun yang memberantas buta huruf dan beliau meminta tebusan yaitu sejumlah tawanan kaum musyrik pada perang badar untuk mengajarkan baca tulis kepada sepuluh anak muslim.
Selanjutnya lama kelamaan islam pun mulai menyebar luas, yang awalnya hanya berpusat di Madinah lalu menuju ke Kairo terus ke Afrika utara dan menyebar ke Andalusia serta ke arah timur melalui Iran lalu ke Asia.
Pada saat Umar bin Khattab menjadi khalifah perluasan islam pun semakin meluas. beliau menaklukan daerah-daerah seperti Iraq, Azerbaijan, Basrah, Kufah, Syam dan Mesir.
Dawlah Umayyah memindahkan ibukota ke Damaskus, lalu memperluas wilayahnya ke daerah Maghrib dan Andalusia serta ke arah timur. Berikut ialah para tokoh dalam bidang berbagai ilmu, yakni:
a. Ibnu Abbas (619-687)
b. Zaid ibn Tsabit (611-666)
c. Abdullah ibn Umar
Dan sebenarnya masih banyak lagi ilmuwan atau sahabat yang memiliki keahlian lebih dibidang pengetahuan. Maupun di Damaskus, Kufah, Basrah, Mesir dan Baghdad. Itu tadi hanya disebutkan  tokoh sebagiannya saja.
- Wilayah Barat (Cordova)
Khilafah Umayyah  memulai penaklukan ke wilayah barat. Pada tahun 711 Andalusia berhasil ditaklukan. Pada tahun 756 Abdurrahman I atau pangeran dari khilafah Damaskus melarikan diri ke Andalusia lalu menjadi khalifah disana.

III. Organisasi Pendidikan Islam
- Halaqah : bentuk sederhana dari organisasi pendidikan islam klasik
- Maktab : ialah sekolah menulisyang ada sebelum islam
- Sekolah istana : yakni sekolah yang dilaksanakan di istana
- Sekolah masjid : yaitu mempelajari tentang bagaimana masjid itu sendiri, hal ini biasa ditujukan kepada para anak muda
- Sekolah toko buku : hal ini sama dengan halnya perpustakaan
- Sanggar sastra : tempat khusus untuk orang tertentu yang biasa membahas tentang sastra dan ilmu pengetahuan
- Madrasah : adalah tempat untuk memberikan pelajaran
- Universitas : ini adalah puncak kejayaan ilmu pengetahuan dizaman klasik islam

BAB 2
PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DI DUNIA ISLAM
I. Lahirnya Ilmu Pengetahuan di dalam Islam
Menurut Huda ‘Abdurrazzaq ath-Tha’i, pada masa Nabi ilmu yang wajib diajarkan ialah: Menelaah Al-Qur’an, Menghafal Hadist, Bahasa Arab dan Adab.
Sedangkan menurut Hasan Ibrahim Hassan, ilmu yang pertama kali berkembang pada sejarah Islam ialah: Al-Quran dan tafsirnya, Ilmu Tafsir, Ilmu Qira’ah, Fiqh, Nahwu (tata bahasa Arab), Hadist dan Ilmunya, serta Ilmu penulisan kamus bahasa


II. Klasifikasi Ilmu Pengetahuan dalam Islam
Yang dimaksud dalam hal ini ialah sebagai perkembangan ilmu pengetahuan dari yang belum spesifik menjadi yang lebih spesifik lagi. Setelah digali lebih dalam lagi hal ini melahirkan ilmu-ilmu mandiri seperti qiraat, tafsir, Hadist dan masthlahatnya.
Ada banyak Ilmuwan yang melahirkan ilmu-ilmu keislaman yaitu: Abu Yusuf Ya’qub Ishaq al-Kindi, Abu Zaid al-Balkhi, Abu Nashr al-Farabi, Ibnu Kufi al-Asadi, Ibnu an-Nadhim, Al-Khawarizmi al-Katib, Ibnu Farighun, Ibnu Sina, Ibnu Hazm, Al-Abiyawardi, Az-Zamakhsyari, Al-Fakhrurrazi, Ibnu Khaldun, Thasy Kubra Zadah.

III. Tradisi Bayani, Burhani, dan Irfani
- Bayani ialah cara berfikir yang mengedepankan masalalu dan menggunakan Al-Qur’an dan Hadist
- Burhani ialah sesuatu yang dianggap benar bila bisa dibuktikan secara empiris
- Irfani ialah sesuatu yang biasanya dilaksanakan menggunakan batin, ccontohnya Isra’ miraj nya Nabi Muhammad SAW

IV. Metode Memperoleh Ilmu dalam Tradisi keilmuan Islam
Ada 2 metode yang biasa digunakan untuk memperoleh ilmu di Arab, yakni dengan cara metode Hafalan dan Tulisan. Metode ini sudah dilaksanakan sebelum Islam datang, dan di Al-Qur’an dan Hadist pun sudah dijelaskan bahwa untuk seluruh umat Islam agar membaca dan mencari ilmu. Banyak juga ilmuan yang meneliti hal ini.


V. Isnad dan Metode Transmisi Keilmuan Islam
Ada 3 aplikasi Sanad yang memiliki ciri-ciri umum yang berbeda yaitu:
a. Dalam bidang ilmu Hadist
b. Dalam transmisi kitab atau buku
c. Dalam do’a atau yang terkenal dengan sanad hizb
Berbicara tentang Sanad, Ulama-ulama terdahaulu menyusun metode-metode untuk memperoleh ilmu dan disusun dari yang paling tinggi: As-Sima, Al-Qira’ah, As-Sima ala asy-Syaikh bi Qira’ah Gairih, Al-Ijazah, Al-Munawalah, Al-Kitabah, dan Al-Wijadah.

VI. Pengutipan dalam Etika Keilmuan Islam
Biasanya dengan mengutip dapat meningkatkan prestise karya sendiri melalui sumber yang diambil oleh si pengutip. Di dunia Islam, penghormatan kepada pihak literatur adalah sangat besar.

BAB 3
ILMU-ILMU KEISLAMAN: METODE DAN SUMBER
Dalam ilmu Ushul Fiqh disini judul Al-Bayan ini, Asy-Syafi’i memperkenalkan tingkat perbedaan kejelasan teks Al-Qur’an:
a. Tingkat pertama adalah teks yang jelas (Bayyin).
b. Tingkat kedua adalah tampak (Zahir).
c. Tingkat ketiga adalah global (Mujmal).
Berikut kitab-kitab Tafsir dengan kategorinya:
a. Jami’ul Bayan fi Tafsir Al-Qur’an karya Ath-Thabari
b. Bahral al-Ulum karya Abu Laits as-Samarqandi
c. Ma’alim at-Tanzil karya Al-Baghdawi
d. Tafsir Al-Qur’an al-Ahzin karya Ibnu Katsir, dsb
Dan pada abad ke 5 Hijriyah atau 11M, ada 5 pembukuan tafsir terlepas dari metode para ahli Hadis, dan dikenal dengan istilah tafsir bir-ra’yi.